Xi Jinping Susun Strategi Besar, Perkuat AI dan Militer China untuk Hadapi AS | Teknologi | INERSIA.TV
T
Xi Jinping Susun Strategi Besar, Perkuat AI dan Militer China untuk Hadapi AS
Presiden China Xi Jinping merancang strategi jangka panjang untuk memperkuat sektor AI, komputasi kuantum, dan militer. Langkah agresif ini disiapkan secara khusus untuk menghadapi persaingan dengan Amerika Serikat.
XI Jin Ping, Presiden China
BEIJING, Inersia.tv – Rivalitas geopolitik antara China dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan terus memanas dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping kini bersiap mengambil langkah strategis yang lebih agresif untuk mengantisipasi dominasi AS di ranah global.Negeri Tirai Bambu tersebut dikabarkan tengah menyusun strategi jangka panjang demi memperkuat posisinya dalam menghadapi ancaman Negeri Paman Sam. Fokus utama dari rancangan ini adalah mengalokasikan sumber daya secara besar-besaran pada sektor kecerdasan buatan, komputasi kuantum, serta eskalasi kekuatan angkatan bersenjata.Rencana ambisius yang dirancang untuk rentang waktu lima tahun ke depan tersebut secara resmi dipaparkan dalam agenda rapat parlemen nasional di Beijing. Strategi ini secara tersirat menegaskan keyakinan Xi bahwa pencapaian inovasi teknologi akan menjadi penentu utama dalam memenangkan persaingan ekonomi dan militer di masa depan.China saat ini terpantau semakin gencar melakukan riset dan pengembangan pada berbagai sektor teknologi mutakhir yang belum banyak digarap secara optimal oleh negara lain. Target inovasi yang tengah dikejar secara masif mencakup bidang manufaktur biologis, jaringan nirkabel 6G, antarmuka otak dengan komputer, hingga teknologi energi fusi.Cita-cita besar tersebut telah tertuang secara gamblang dalam dokumen perencanaan strategis milik pemerintah pusat China."Di tengah persaingan internasional yang sengit, kita harus memenangkan inisiatif strategis," demikian bunyi rancangan resmi tersebut.Ambisi kemandirian ini juga dipicu oleh rentetan kebijakan blokade ekonomi dan pembatasan teknologi yang dilancarkan Washington terhadap Beijing selama beberapa tahun belakangan. Pemutusan akses teknologi penting serta sanksi ketat terhadap perusahaan lokal memaksa China untuk segera membangun ekosistem industrinya sendiri.Pemerintah China kini menganggap otonomi pada sektor teknologi krusial, terutama produksi semikonduktor, sebagai sebuah kebutuhan mendesak. Gerard DiPippo, analis senior dari lembaga riset RAND China Research Center, menilai bahwa manuver pencegasan oleh AS ini sudah terbaca dengan sangat jelas oleh jajaran pejabat di Beijing."Para pemimpin China berpandangan bahwa Washington akan terus berupaya membatasi perkembangan teknologi China," kata Gerard.Eskalasi pergerakan militer AS di sejumlah wilayah, seperti intervensi di Venezuela dan penyerangan ke Iran, turut menjadi alarm bahaya tersendiri bagi China. Mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS, Daniel R. Russel, menganggap bahwa pengerahan pasukan militer tersebut justru akan memberikan efek bumerang bagi pemerintahan Presiden Donald Trump."Trump mungkin mengira ia sedang menunjukkan kekuatan militer untuk mengintimidasi Beijing. Namun, tindakannya di Venezuela dan Iran, justru kemungkinan besar akan mendorong Beijing memperkuat kemampuan untuk melawan AS, dan mempererat hubungan dengan Rusia," kata Russel.Sebagai wujud nyata dari penguatan lini pertahanan nasional, China juga berkomitmen penuh untuk menggenjot kapasitas tempur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Peningkatan alokasi anggaran militer pada tahun ini dilaporkan menembus angka 277 miliar dolar AS atau mengalami lonjakan sebesar 7 persen jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.Kendati visi besar ini telah ditetapkan dalam skala nasional, para pengamat menilai bahwa pelaksanaan strategi di tingkat daerah masih rawan memunculkan masalah produksi. Zongyuan Zoe Liu, peneliti dari Council on Foreign Relations, memprediksi akan muncul tantangan serius terkait kapasitas pasokan barang akibat eksekusi kebijakan yang kurang terukur."Jika kebijakan industri dijalankan dengan koordinasi yang minim di tingkat lokal, kelebihan kapasitas akan terus terjadi," kata Zoe Liu.Kondisi lonjakan barang yang melebihi permintaan pasar domestik tersebut pada akhirnya akan memaksa para pelaku industri lokal untuk memutar otak."Ini berarti produsen China akan terus mencari pembeli di seluruh dunia, dengan taktik kombinasi ekspor dan pemindahan kapasitas produksi ke luar negeri," imbuh Liu memberikan proyeksinya.